Adhi Wibowo

Featured Posts

Sports

Games

Lebih Dingin dari Badai

Tidak ada komentar :

Hari itu aku bangun pukul sebelas siang, aku merasakan kaki kram, lutut nyeri, badan yang belum selesai lelah.


Semua itu sisa pendakian kemarin.




Pendakian kulakukan bertujuan menemani seseorang, aku sendiri tidak berniat naik, aku hanya tidak sampai hati membiarkannya seorang diri. sekilas mengungkit cerita kemarin, anggota kami 3 orang (Aku, Andri & Bakti).


Di perjalanan, aku ditinggal. Andri orang yang kukhawatikan, berjalan lebih dulu seolah kehadiranku tak pernah diminta yang bertujuan ingin menemaninya untuk mendaki, justru Bakti yang peduli padaku dan menanyakan keadaanku.


Namun aku bertahan. Bukan karena tubuhku kuat, tapi karena aku khawatir dengan orang yang sudah kuanggap keluarga sendiri.


Aku melanjutkan pendakian sendirian, menahan hawa dingin yang tak ramah dengan tubuhku. sepanjang pendakian aku berdoa bukan agar cepat sampai, namun agar kakiku kuat. Dan akhirnya aku sampai dengan basah kuyup menerjang hujan badai.


ketika aku telah sampai diatas, aku melihat mereka sudah duduk disana, mereka terkejut terutama dia karena dari awal meremehkan ketahanan fisikku.


“Kamu beneran bisa sampe puncak hujan badai gini?!” lempar Andri,


Aku hanya tersenyum, terlalu kedinginan untuk membela diri.


Setelah aku baru sampai,


Badai semakin besar, kami tak lama disana.


Aku ingin istirahat sebentar. Mereka bersikeras ingin turun karena badai yang semakin besar.


“This was a idiot idea,” ucapku.


dan jawaban Andri sampai dengan cepat dan ringan 


“I’m not inviting you.”


Kalimat itu lebih dingin dari hujan dan badai.


Kami turun. Di bawah, mulai terasa hangat, mentari menyinari. tapi sesuatu dalam diriku berbanding terbalik.


Kami sampai di kos, akupun memilih diam. tak lama kemudian aku pergi meninggalkan mereka untuk bermain billiard, dengan maksud meredakan emosi. Karena aku tahu banyak tugas kampus yang menunggu. dan aku tidak boleh hancur di hari itu.


Keesokan harinya, aku bangun pukul 11 siang dengan, tubuh yang perlahan pulih, namun masih ada rasa sakit.


satu kalimat masih tinggal di kepalaku.