Chapter 1 : Sekolah after COVID
Sebuah keputusan kecil ternyata cukup untuk mengubah jalan hidupku. Semua bermula ketika aku melangkah ke ruang itu.
Sebut saja namaku Awan. Semuanya berawal di akhir pandemi COVID-19, tepatnya pada tahun 2021. Saat itu, setelah pergantian semester kenaikan kelas, sekolahku mulai kembali menerapkan pembelajaran tatap muka dengan metode new normal, atau yang waktu itu masih sering disebut social distancing karena semua orang masih memakai masker dan menjaga jarak.
Pagi itu adalah hari pertama aku kembali berangkat ke sekolah setelah PPKM. Rasanya senang sekaligus tidak sabar bisa memakai lagi seragam putih abu-abu yang sudah lama hanya tergantung di lemari. Yang ada di pikiranku waktu itu cuma ingin ketemu teman-teman, hangout lagi, dan bercanda seperti sebelum pandemi. Yang sedikit berbeda, seragamku mulai terasa sempit dan kekecilan, mungkin karena selama jeda sekolah aku lebih sering rebahan daripada workout. Setelah selesai memakai seragam, aku menata buku yang akan kubawa ke sekolah, lalu memakai sneakers hitam favoritku.
Tepat pukul 06.30, aku mengeluarkan motor dan mulai berangkat ke sekolah.
Di perjalanan, aku sempat berpikir,
"apa nanti bakal awkward ya ketika ketemu lagi setelah hampir dua semester pembelajaran online?"
"apakah aku masih bisa blending dengan mereka semua?"
Jalan raya mulai ramai kembali, tetapi ada satu hal yang terasa berbeda. Hampir semua orang memakai masker. Mulai dari pengendara motor, pekerja yang berangkat ke kantor, pedagang, sampai para guru dan siswa yang menuju sekolah. Jalanan memang sudah hidup lagi, tapi pandemi belum benar-benar pergi. Semua orang masih menjaga jarak, masih menutupi wajah, dan masih membawa rasa waswas kalau-kalau virus itu datang lagi.
Singkat cerita, aku sudah sampai di sekolah. Ketika melewati gerbang, aku belum merasakan banyak hal yang berbeda selain adanya tempat cuci tangan di depan hampir setiap ruang kelas. Selebihnya, suasananya masih terasa sama seperti sebelum pandemi. Aku menuju parkiran di basement dan melihat motor-motor siswa lain sudah tertata rapi. Ku matikan mesin motorku, kuturunkan standar, lalu kulepas helm dari kepalaku. Tercium lagi bau khas parkiran yang sudah lama tidak aku datangi, walaupun hanya samar karena terhalang masker yang kupakai.
Begitu berjalan keluar dari area parkiran, beberapa anggota Palang Merah Remaja sudah menunggu untuk mengecek suhu tubuh setiap siswa menggunakan alat seperti heat gun, entah apa nama aslinya, sampai sekarang aku juga kurang tahu. Setelah suhu tubuhku dinyatakan normal, aku dibolehkan masuk. Tidak berhenti sampai di situ, ada juga anggota PMR yang menanyakan sertifikat vaksin dosis pertama sebagai salah satu syarat mengikuti pembelajaran tatap muka.
Setelah itu aku melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas. Di sana sudah banyak teman-temanku yang duduk di bangku ataupun berdiri di depan pintu.
Aku mulai menyapa mereka satu per satu. Semua masih memakai masker sesuai aturan yang berlaku. Awalnya aku sempat merasa awkward, tapi ternyata tidak butuh waktu lama sampai kami kembali ngeblend seperti dulu, walaupun sudah lama tidak bertemu.
Kami mulai ngobrol tentang apa saja yang terjadi selama pandemi. Ternyata kebanyakan lingkungan rumah teman-temanku juga cukup patuh menerapkan aturan dari pemerintah dan tenaga kesehatan, walaupun tetap ada beberapa orang yang tidak terlalu aware. Sampai akhirnya, ketika ada tetangga mereka yang benar-benar terkena virus itu, barulah banyak yang mulai menjalankan aturan PPKM, entah karena kesadaran akan kesehatan atau mungkin karena ada rasa ketakutan.
Tak lama kemudian, bel penanda jam pelajaran pertama berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas dan duduk rapi menunggu guru datang. Alih-alih langsung menjelaskan materi, guru kami justru lebih banyak bercerita tentang apa yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya selama pandemi. Tidak terasa hampir tiga jam berlalu, hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.
Saat jam istirahat, aku bersama Dani, teman dekatku, pergi ke kantin dengan harapan bisa jajan dan makan seperti dulu. Namun, ternyata semua sudah berubah. Semua kantin di sekolahku masih tutup, bahkan warung-warung kecil di pinggir jalan sekitar sekolah juga belum ada yang buka. Akhirnya kami kembali ke kelas dan menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul. Topik yang paling sering kami bahas waktu itu tentu saja game yang sedang hype, yaitu Mobile Legends dan PUBG Mobile. Mulai dari meta terbaru, rank, sampai merencanakan buat mabar sepulang sekolah.
Ketika bel masuk kembali berbunyi, semua siswa berjalan masuk ke kelas. Tapi aku berbeda. Aku justru melangkah menuju ruang musik yang berada di lantai satu sekolahku. Sebenarnya aku bukan anggota resmi ekstrakurikuler musik. Namun sejak tampil memainkan keyboard saat pensi MPLS, aku menjadi cukup dekat dengan guru pembimbing ekskul tersebut. Karena itu, hampir setiap ada waktu luang, atau malas dengan mata pelajaran yang akan dipelajari, tentu tidak untuk ditiru ya teman teman. Aku lebih sering menghabiskan waktu di ruang musik daripada di kelas.
Di sudut ruang musik, kuhapus debu diatas keyboard dan mulai memainkan beberapa lagu favoritku. Setelah beberapa lagu selesai kumainkan, samar-samar aku melihat dua sosok berhijab berjalan menuju ruangan ini. Betul saja, tidak lama kemudian mereka membuka pintu, dan ternyata…
Komentar
Posting Komentar