Aku menulis ini setelah kurang lebih empat jam lebih tenggelam dalam revisi skripsi, sitasi, parafrase, dan berbagai bagian kecil yang pelan-pelan menguras fokus tanpa terasa. Bukan jenis lelah yang langsung terlihat dari luar, tapi lelah yang bekerja diam-diam sampai semua hal terasa seperti berjalan dalam mode lambat. Di titik ini, aku tidak benar-benar berhenti, hanya mencoba merapikan isi kepala sebelum kembali masuk ke pekerjaan yang sama lagi. Di luar ruangan, malam berjalan seperti biasa saja. Lampu-lampu kecil dari rumah sekitar tetap menyala dengan ritme yang sama, tidak ada yang berubah secara signifikan. Tapi di dalam kepala, semuanya terasa sedikit lebih berat dari biasanya, seperti ada banyak tab yang terbuka sekaligus, namun tidak satu pun yang benar-benar ditutup atau diselesaikan.

Dan di sela kondisi seperti itu, pikiran justru cenderung melompat ke banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan skripsi. Kalau berbicara tentang “dia”, selalu ada kesulitan untuk menentukan dari mana harus memulai. Karena sejak awal, dia tidak pernah hadir sebagai sosok “kakak” dalam pengertian yang sederhana atau mudah dijelaskan. Dia lebih seperti sebuah titik referensi yang tanpa sadar ikut membentuk cara aku membaca dunia, bahkan sebelum aku benar-benar sadar bahwa aku sedang membandingkan sesuatu. Dari luar, dia terlihat cukup biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak mencari perhatian, dan cenderung berada di posisi yang tidak terlalu menonjol. Tapi semakin dekat diperhatikan, semakin terlihat bahwa cara dia berpikir tidak pernah benar-benar berada di permukaan. Ada struktur yang berjalan di baliknya, semacam pola internal yang membuat dia melihat masalah bukan sebagai satu kesatuan langsung, tetapi sebagai sesuatu yang harus dibuka lapis demi lapis, seperti file yang harus diurai sebelum bisa dipahami secara utuh.

Kadang aku membayangkan kalau cara dia berpikir itu seperti sebuah sistem yang terus berjalan di background. Tidak terlihat, tidak ribut, tapi selalu aktif. Semua informasi yang masuk seolah langsung dipetakan, dibandingkan dengan data lain, lalu ditempatkan pada posisi yang dianggap paling relevan tanpa banyak proses yang terlihat di permukaan. Cara dia berkomunikasi juga tidak berada dalam satu mode tetap. Dalam situasi tertentu dia bisa sangat tenang, hampir tidak menunjukkan dominasi dalam percakapan, seolah semuanya berjalan normal saja. Namun di momen lain, terutama ketika ada sesuatu yang menurutnya tidak sesuai logika, cara dia berbicara berubah menjadi sangat “tajam”, tanpa banyak ruang untuk interpretasi tambahan. Dan pada titik-titik seperti itu, aku tidak lagi hanya mengamati dari jauh, tapi ikut terlibat secara mental dalam cara berpikir yang dia bawa.

Aku juga pernah membayangkan satu versi alternatif dari dirinya, bukan sebagai orang yang benar-benar berbeda, tetapi semacam “shadow version” di dalam kepala. Versi yang mungkin hidup di lingkungan berbeda, dengan pengalaman yang berbeda, tetapi tetap membawa struktur berpikir yang sama. Dalam bayangan itu, dia selalu terlihat seperti seseorang yang beberapa langkah lebih cepat dalam membaca pola. Ketika orang lain masih berada di tahap memahami situasi, dia sudah lebih dulu sampai pada kesimpulan, seolah dunia di sekitarnya bergerak sedikit lebih lambat dibandingkan cara pikirnya sendiri. Seiring waktu, tanpa aku sadari, pola seperti itu mulai meninggalkan jejak dalam cara aku berpikir dan bekerja. Setiap kali mengerjakan sesuatu, selalu ada semacam proses evaluasi internal yang berjalan bahkan sebelum aku benar-benar merasa hasilnya cukup untuk dilanjutkan. Standar itu tidak pernah diucapkan secara langsung, tidak pernah benar-benar diajarkan secara eksplisit, tetapi hadir seperti sistem referensi yang terus aktif di latar belakang.

Bahkan dalam hal sederhana seperti menerima apresiasi dari orang lain, respon yang muncul sering kali terasa sangat datar dan sederhana. Bukan karena tidak menghargai, tetapi karena di dalam kepala masih ada proses lain yang berjalan secara paralel. Semacam perbandingan otomatis yang tidak pernah benar-benar dimatikan, seperti sistem yang sudah terlalu lama aktif hingga sulit untuk benar-benar dihentikan. Pada beberapa momen, efeknya membuat aku cenderung membedah hal-hal kecil lebih dalam dari yang sebenarnya dibutuhkan. Masalah sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang dianalisis sampai ke lapisan yang lebih dalam, seolah setiap hal selalu memiliki struktur tersembunyi yang harus dipahami sebelum bisa dianggap selesai. Namun di titik ini, ada sesuatu yang mulai terasa sedikit berbeda, meskipun tidak bisa disebut perubahan besar. Lebih seperti pergeseran halus dalam cara memandang sesuatu.

Mungkin tidak semua hal harus selalu diukur menggunakan satu referensi yang sama. Mungkin ada ruang lain yang bisa dibangun tanpa harus menghapus pola yang sudah terbentuk sebelumnya. Dia tetap menjadi salah satu pengaruh paling kuat dalam cara aku berpikir dan bekerja, itu tidak berubah. Tapi perlahan, aku mulai memahami bahwa proses berkembang tidak selalu berarti harus mendekati satu titik tertentu atau satu standar yang sama. Kadang, perkembangan justru tentang menemukan arah yang berdiri di atas pemahaman yang sudah ada, bukan menggantikannya. Dan di antara semua itu, mungkin hal yang paling penting adalah menyadari bahwa tidak semua sistem harus terus berjalan dalam mode perbandingan tanpa henti. Ada saat di mana sistem itu boleh berhenti sejenak, tidak untuk berhenti selamanya, tetapi hanya untuk memberi ruang agar tidak terlalu penuh.

Di luar sana, malam masih berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan yang berarti. Tapi di dalam kepala, ada sesuatu yang perlahan mencoba menata ulang posisinya sendiri, bukan dengan menghapus apa yang sudah ada, tetapi dengan memberi ruang yang sedikit lebih luas dari sebelumnya.

Dan mungkin untuk malam ini itu aja ya rek, kek capek bgt malem ini kerasa malam yang panjang banget...

 

 

Komentar